Kepala SDN 09 Sungai Beremas, Masril Madnin, S.Pd PASAMAN BARAT, zamanterkini.com – Di tengah ambisi pemerintah mengejar digitalisasi ...
![]() |
| Kepala SDN 09 Sungai Beremas, Masril Madnin, S.Pd |
PASAMAN BARAT, zamanterkini.com – Di tengah ambisi pemerintah mengejar digitalisasi pendidikan, SDN 09 Sungai Beremas di kawasan Poros, Kabupaten Pasaman Barat, justru seolah "dianaktirikan". Hingga detik ini, sekolah tersebut masih terbelenggu dalam kegelapan tanpa aliran listrik PLN dan buta akses internet (WiFi).
Kondisi ini bukan sekadar kendala teknis, melainkan penghambat nyata bagi masa depan siswa dan kelancaran administrasi sekolah yang kini serba daring.
Kepala SDN 09 Sungai Beremas, Masril Madnin, S.Pd, mengungkapkan rasa frustrasinya terhadap harapan kehadiran wifi - internet dan listrik yang sangat lamban. Padahal jalan ke sana melalui jalur Teluk Tapang sudah mulus dan bagus
![]() |
| Para Guru yang ditemui di SDN 09 Sungai Beremas |
Meski berkali-kali mengajukan permohonan ke berbagai pihak—mulai dari tinfkat nagari hingga instansi terkait—hasilnya nihil.
“Kok lai ancak bona molahnyo pak, tapi ndak lai salamo iko do pak, iming-iming ajo nyo (Kalau ada memang bagus sekali. Tapi nggak ada selama ini, hanya janji-janji saja),” sindir Masril dalam bahasa daerah, menggambarkan kekecewaannya.
Padahal, langkah-langkah prosedural telah ditempuh oleh pihak sekolah:
Instruksi Dinas: Sekolah diminta menghubungi PT Telkom, namun hingga kini tidak ada kepastian.
Tinjauan PLN: Petugas PLN Simpang Empat sempat turun ke lokasi, tetapi kabel listrik tak kunjung menjangkau kawasan Poros.
Minim Perhatian Nagari: Masril menyayangkan sikap pasif nagari yang hingga kini belum memberikan ruang diskusi khusus terkait krisis fasilitas ini.
Guru dan Siswa Terancam Tertinggal
Bagi para guru, ketiadaan internet adalah mimpi buruk administrasi. Aplikasi pembelajaran dan pengiriman laporan pendidikan kini wajib diakses secara online.
Tanpa infrastruktur dasar, SDN 09 Poros dipaksa bekerja ekstra keras hanya untuk memenuhi standar administratif yang seharusnya bisa selesai dalam hitungan menit.
“Kebutuhan internet sekarang sangat mendesak. Kami tertinggal informasi pendidikan jika terus begini,” keluh salah seorang guru di kantor sekolah.
Dukungan mengalir dari para orang tua murid. Mereka khawatir ketimpangan fasilitas ini membuat anak-anak mereka tertinggal jauh dari siswa di perkotaan dalam penguasaan teknologi.
Tuntutan Utama:
Dinas Pendidikan & Pemda: Segera turun tangan melakukan koordinasi lintas sektoral yang konkret.
PLN & Telkom: Mewujudkan janji survei menjadi instalasi nyata.
Pihak Nagari: Menjadikan kebutuhan dasar sekolah sebagai prioritas dalam pembangunan desa.
Masyarakat dan pihak sekolah kini menanti aksi nyata, bukan sekadar kunjungan lapangan atau janji manis di atas kertas. Pendidikan yang modern dan efisien di kawasan Poros tidak akan pernah terwujud selama kabel listrik dan sinyal internet masih menjadi barang mewah yang mustahil digapai. **** irz



COMMENTS