Dr. Maneger Nasution, S.Ag., M.A., M.H PASAMAN BARAT, zamanterkini.com — Salah seorang anggota Ombudsman RI, Dr. Maneger Nasution, ...
| Dr. Maneger Nasution, S.Ag., M.A., M.H |
PASAMAN BARAT, zamanterkini.com — Salah seorang anggota Ombudsman RI, Dr. Maneger Nasution, S.Ag., M.A., M.H., menyuarakan keprihatinan mendalam terkait seretnya pembangunan infrastruktur jalan menuju tanah kelahirannya di Rura Patontang. Putra daerah kelahiran 1968 yang sukses di perantauan ini berharap agar rencana pembangunan jalan tersebut kali ini benar-benar bisa terlaksana dengan baik.
Sebagai tokoh nasional yang sarat pengalaman—pernah menjabat sebagai Anggota Komnas HAM, Wakil Ketua Komisi Hukum dan HAM MUI, serta Wakil Ketua LPSK—Maneger menegaskan bahwa pihaknya telah berulang kali memberikan masukan konkret kepada pemerintah daerah maupun pusat demi membuka akses Rura Patontang.
"Masukan sudah banyak kami berikan. Semoga kali ini (pembangunan jalan) bisa terlaksana dengan baik," ungkap Maneger saat dimintai tanggapannya, Senin 1 Juni.
Menurutnya, anggaran untuk akses jalan ke Rura Patontang semestinya sudah dikucurkan sejak lama. Ia sendiri mengaku telah vokal menyuarakan buruknya kondisi infrastruktur di sana sejak tahun 2012 silam.
"Mestinya jalan itu dibangun dari dulu. Saya sudah bicara dan mengingatkan hal ini sejak tahun 2012," tegasnya.
Maneger kemudian menyoroti ironi besar yang terjadi di Indonesia saat ini. Di satu sisi, negara gencar membicarakan transformasi digital, kecerdasan buatan (artificial intelligence), hingga modernisasi sistem kesehatan. Namun di sisi lain, realitas pahit justru terjadi di Rura Patontang, di mana sebuah kampung selama 80 tahun merdeka belum juga memiliki akses jalan yang layak untuk kendaraan roda empat.
Bagi Maneger, hal yang paling menyedihkan adalah fakta bahwa negara sebenarnya tahu persis mengenai keterisolasian pelayanan publik di wilayah tersebut, namun dinilai gagal menghadirkan solusi konkret yang berkelanjutan.
Ia mengingatkan, urusan jalan rusak bukan sekadar persoalan fisik aspal semata. Jalan yang tak kunjung selesai dibangun adalah simbol nyata dari lambannya keberpihakan pemerintah, lemahnya skala prioritas anggaran, serta tumpulnya sensitivitas birokrasi terhadap penderitaan warga yang berada di pinggiran. *** irz


COMMENTS