Tokoh Perantau Rura Patontang: "Kematian Bayi Ini Adalah Kegagalan Rasa Keadilan Sosial" JAKARTA, zamanterkini.com — Tragedi m...
![]() |
| Tokoh Perantau Rura Patontang: "Kematian Bayi Ini Adalah Kegagalan Rasa Keadilan Sosial" |
JAKARTA, zamanterkini.com — Tragedi meninggalnya bayi dari Irhamni (38) akibat keterlambatan akses medis di Rura Patontang, Pasaman Barat, memicu reaksi keras dari tokoh masyarakat setempat yang berada di perantauan. Kritik pedas mengalir terkait ketimpangan pembangunan yang dinilai telah mengabaikan keselamatan nyawa manusia di pelosok.
Martondi Lubis, SH, MKn, seorang tokoh masyarakat asal Rura Patontang yang sukses di Jakarta, menyatakan bahwa peristiwa ini bukan sekadar masalah teknis infrastruktur, melainkan cerminan hilangnya rasa keadilan bagi masyarakat kecil.
“Ketika seorang bayi meninggal karena terlambat mendapatkan akses kesehatan, maka yang gagal bukan hanya infrastruktur, tetapi juga rasa keadilan sosial kita,” ujar Martondi saat dimintai pendapatnya, Jumat (15/5/2026).
Menurut Martondi, Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat, pemerintah provinsi, hingga pusat seharusnya menjadikan wilayah seperti Rura Patontang sebagai prioritas darurat kemanusiaan. Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak boleh bekerja dengan pola "pemadam kebakaran" yang baru bergerak setelah sebuah tragedi menjadi viral.
“Ukuran keberhasilan pembangunan itu bukan terletak pada megahnya proyek di pusat kota, melainkan pada apakah rakyat di pelosok masih harus bertaruh nyawa hanya untuk mencapai puskesmas,” tegasnya.
Ia meminta Pemkab Pasbar berhenti memandang Rura Patontang sebagai wilayah pinggiran yang hanya dikunjungi saat agenda seremonial atau ketika musibah terjadi. Fokus utama yang ia desak adalah pembukaan akses jalan permanen yang bisa dilalui ambulans secara layak, bukan sekadar perbaikan "tambal sulam" musiman yang cepat rusak kembali.
Terkait keterbatasan anggaran yang sering menjadi alasan klasik pemerintah, Martondi memberikan analogi sederhana namun menohok.
"Saya tidak masuk ke soal teknis anggaran, itu urusan Pemkab. Tapi analoginya begini: Jika anak-anakmu kelaparan atau sakit sementara kamu sedang tidak punya uang, orang tua yang bertanggung jawab pasti akan berusaha sekuat tenaga mencari jalan keluar. Begitulah seharusnya pemerintah bertindak," ungkapnya.
Selain infrastruktur jalan, ia juga mendesak penguatan layanan kesehatan di tempat, dengan memastikan adanya tenaga medis yang menetap dan sistem evakuasi darurat yang responsif.
Meski gelombang protes mulai ramai di media sosial, Martondi memilih untuk melihat sejauh mana respons konkret dari pemerintah daerah dalam waktu dekat.
“Tanpa harus ada demonstrasi pun, berita dan media sosial sudah cukup ramai. Saya percaya Pemkab sudah mengetahui kejadian memilukan ini. Sekarang, kita tunggu saja dulu apa reaksi dan tindakan nyata mereka. Jangan tunggu ada korban berikutnya baru semua turun ke lokasi dan sibuk memberi klarifikasi,” tutupnya. **** irz
.png)
COMMENTS